Beranda / Ketahanan Pangan / Smart Farming Berbasis IoT di Lahan Kering NTB: Irigasi Tete...
Ketahanan Pangan

Smart Farming Berbasis IoT di Lahan Kering NTB: Irigasi Tetes dan Cuaca Digital

Smart Farming Berbasis IoT di Lahan Kering NTB: Irigasi Tetes dan Cuaca Digital

Penerapan smart farming berbasis IoT di lahan kering Lombok Timur, NTB, telah berhasil mengatasi tantangan kekeringan dengan meningkatkan produktivitas tanaman jagung dan kedelai hingga 80% serta menghemat penggunaan air hingga 60%. Inovasi ini menggabungkan sensor kelembaban tanah, stasiun cuaca mini, dan irigasi tetes otomatis bertenaga surya untuk mewujudkan pertanian presisi yang efisien dan berkelanjutan. Keberhasilan proyek percontohan ini direncanakan akan direplikasi ke lahan seluas 500 hektar pada tahun 2027, memperkuat ketahanan pangan lahan kering di Indonesia.

Lahan kering di Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat, selama ini menjadi tantangan besar bagi petani lokal. Hamparan luas yang seharusnya menjadi sumber pangan justru sering kali menjadi saksi kegagalan panen akibat kekeringan berkepanjangan. Petani yang mengandalkan tanaman jagung dan kedelai harus berhadapan dengan ketidakpastian cuaca dan terbatasnya akses air. Namun, kondisi ini mulai berubah secara signifikan berkat penerapan smart farming berbasis IoT. Inovasi ini tidak hanya menawarkan solusi atas krisis air, tetapi juga membuka jalan bagi pertanian presisi yang efisien dan berkelanjutan, sekaligus memperkuat ketahanan pangan lahan kering.

Irigasi Tetes dan Cuaca Digital: Revolusi Pertanian di Lahan Kering NTB

Dinas Pertanian NTB berkolaborasi dengan startup TaniHub untuk menerapkan sistem pertanian terintegrasi di lahan seluas 50 hektar. Teknologi yang digunakan meliputi sensor kelembaban tanah, stasiun cuaca mini, dan irigasi tetes otomatis yang seluruhnya ditenagai oleh panel surya. Sensor kelembaban tanah dipasang di titik-titik strategis untuk memantau kadar air secara real-time, sementara stasiun cuaca mini memberikan data akurat tentang suhu, kelembaban udara, dan curah hujan. Data dari kedua perangkat ini dikirimkan secara nirkabel ke dashboard digital yang dapat diakses petani melalui ponsel pintar. Dengan informasi ini, petani dapat mengambil keputusan tepat waktu, seperti kapan harus mengaktifkan irigasi tetes atau menunda penyiraman. Sistem irigasi tetes otomatis bertenaga surya memastikan air dialirkan langsung ke akar tanaman sesuai kebutuhan, sehingga tidak ada air yang terbuang sia-sia. Pendekatan pertanian presisi ini menggantikan metode konvensional yang boros air dan tidak responsif terhadap perubahan cuaca.

Dampak Nyata: Produktivitas Melonjak, Biaya dan Risiko Berkurang

Hasil penerapan smart farming berbasis IoT di Lombok Timur sangat menggembirakan. Produktivitas tanaman jagung dan kedelai meningkat hingga 80% dibandingkan metode tradisional. Penggunaan air berkurang 60% berkat irigasi tetes yang efisien dan pemantauan kelembaban yang akurat. Selain itu, biaya pupuk juga turun 20% karena pemberian nutrisi dapat disesuaikan dengan kondisi tanah dan tanaman secara presisi. Dari sisi lingkungan, penghematan air dan penggunaan energi surya berkontribusi pada pengurangan jejak karbon. Secara ekonomi, petani menikmati peningkatan pendapatan yang signifikan. Dampak sosialnya pun terasa: petani kini lebih percaya diri menghadapi musim kemarau dan tidak lagi bergantung sepenuhnya pada hujan. Inovasi ini membuktikan bahwa ketahanan pangan lahan kering bukanlah mimpi, melainkan target yang dapat dicapai dengan teknologi tepat guna dan pendekatan pertanian presisi.

Keberhasilan proyek percontohan ini mendorong Dinas Pertanian NTB untuk memperluas penerapan smart farming ke area yang lebih luas. Rencananya, pada tahun 2027, sistem ini akan diterapkan di lahan seluas 500 hektar dengan dukungan dana dari APBD dan program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR). Langkah ini sejalan dengan komitmen pemerintah daerah untuk memperkuat ketahanan pangan sekaligus menghadirkan solusi inovatif bagi petani di wilayah marginal. Dengan replikasi yang masif, smart farming berbasis IoT di lahan kering NTB dapat menjadi model bagi daerah lain di Indonesia yang menghadapi tantangan serupa. Ini adalah bukti bahwa teknologi dapat menjadi jembatan menuju pertanian yang lebih tangguh, efisien, dan berkelanjutan di tengah ancaman perubahan iklim.

Organisasi: Dinas Pertanian NTB, TaniHub