Permasalahan produktivitas lahan yang rendah, disertai ketergantungan tinggi pada input kimia dan pola irigasi yang kurang efisien, masih menjadi tantangan besar bagi ketahanan pangan nasional. Di Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan, UKM KPI Universitas Hasanuddin hadir dengan solusi konkret melalui program "Mannennungeng: Smart Hydro Loop". Program yang bermakna 'keberlanjutan' dalam bahasa Bugis ini diimplementasikan di Desa Kajaolaliddong, menawarkan sebuah terobosan inovasi pertanian pintar yang dirancang untuk menjawab persoalan tersebut secara holistik.
Konsep dan Pendekatan Inovatif Mannennungeng
Program ini bukan sekadar transfer teknologi, melainkan sebuah pendekatan pembangunan partisipatif. Sebelum teknologi diterapkan, tim Unhas terlebih dahulu berdialog dengan petani dan aparat desa untuk merancang sistem yang benar-benar sesuai dengan kondisi dan kebutuhan lokal. Solusi intinya terletak pada dua pilar utama: irigasi presisi berbasis IoT (Internet of Things) dan pengolahan limbah pertanian dan peternakan menjadi pupuk organik cair. Kombinasi ini menciptakan sebuah loop atau siklus yang efisien dan berkelanjutan, di mana limbah diolah kembali menjadi sumber nutrisi bagi tanaman, dan air digunakan secara optimal.
Cara kerja sistem ini relatif sederhana namun berdampak besar. Sensor kelembaban tanah yang terhubung dengan sistem IoT memantau kondisi lahan secara real-time. Data ini digunakan untuk mengatur pompa air secara otomatis, sehingga penyiraman hanya terjadi ketika tanaman benar-benar membutuhkannya. Di sisi lain, limbah kotoran ternak dan sisa tanaman difermentasi menjadi pupuk organik berkualitas, mengurangi ketergantungan pada pupuk kimia pabrikan. Pendekatan ini tidak hanya menghemat sumber daya, tetapi juga memperbaiki kesehatan tanah secara bertahap.
Dampak Nyata bagi Lingkungan dan Ekonomi Petani
Implementasi sistem Hydro Loop ini membawa perubahan yang terukur. Dari sisi konservasi air, sistem irigasi presisi mampu menghemat penggunaan air hingga 25%. Penggunaan pupuk organik dari limbah lokal berpotensi mengurangi ketergantungan pada pupuk kimia hingga 50%, yang sekaligus menurunkan biaya produksi petani. Dampak paling menggembirakan adalah peningkatan produktivitas padi dari rata-rata 3 ton menjadi target 5 ton per hektare. Selain itu, program ini dirancang untuk memperbaiki kualitas tanah asam (pH 5.0-5.5) menjadi lebih netral dan stabil (pH 5.5-6.5), yang merupakan fondasi penting untuk pertanian berkelanjutan jangka panjang.
Secara sosial-ekonomi, program yang melibatkan 25 petani sebagai kelompok sasaran ini memberikan pendampingan intensif hingga September 2026. Peningkatan hasil panen langsung meningkatkan pendapatan rumah tangga petani, sementara pengurangan biaya pupuk dan air memperkuat daya tahan ekonomi mereka. Inovasi ini membuktikan bahwa penerapan teknologi tepat guna, dikombinasikan dengan pemberdayaan masyarakat, dapat secara simultan meningkatkan ketahanan pangan dan kesejahteraan petani.
Potensi replikasi model Mannennungeng sangat besar. Pendekatan partisipatif dan penggunaan teknologi yang dapat diadaptasi membuatnya cocok untuk diterapkan di berbagai daerah dengan tantangan serupa. Keselarasan program dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), khususnya terkait dengan konsumsi dan produksi yang bertanggung jawab, kehidupan di darat, dan pengentasan kemiskinan, menjadikannya sebuah blueprint yang berharga untuk pembangunan perdesaan berbasis inovasi.
Kisah dari Desa Kajaolaliddong ini mengajarkan bahwa solusi untuk krisis lingkungan dan ketahanan pangan seringkali terletak pada pendekatan yang terintegrasi dan melibatkan masyarakat sebagai subjek utama. Mannennungeng bukan hanya tentang sensor dan pompa air; ia adalah tentang membangun sebuah ekosistem pertanian yang cerdas, mandiri, dan berdaulat. Inovasi semacam ini patut mendapat dukungan dan disebarluaskan, karena ia menunjukkan jalan nyata menuju masa depan pertanian Indonesia yang lebih produktif, ramah lingkungan, dan berkelanjutan.