Beranda / Ekologi Terapan/Inovasi Hayati / Kisah Sukses Tambak Berkelanjutan Tanpa Korbankan Ekosistem...
Ekologi Terapan/Inovasi Hayati

Kisah Sukses Tambak Berkelanjutan Tanpa Korbankan Ekosistem di Berau

Kisah Sukses Tambak Berkelanjutan Tanpa Korbankan Ekosistem di Berau

Sistem Shrimp Carbon Aquaculture (SECURE) di Berau membuktikan bahwa tambak berkelanjutan dapat dicapai melalui pengaturan lahan yang cerdas: 20% untuk budidaya intensif dan 80% untuk konservasi mangrove. Kolaborasi multipihak ini menghasilkan kenaikan produktivitas hingga 15% sekaligus memulihkan fungsi ekosistem pesisir. Inovasi ini menawarkan model yang dapat direplikasi untuk mengatasi dilema antara produksi perikanan dan konservasi lingkungan di berbagai wilayah Indonesia.

Dalam konteks pembangunan wilayah pesisir Indonesia, konflik antara ekspansi produksi tambak dan kelestarian ekosistem mangrove telah lama menjadi tantangan nyata. Praktik tambak tradisional yang mengandalkan perluasan lahan dengan mengonversi hutan bakau seringkali membawa konsekuensi jangka panjang yang serius. Degradasi lingkungan akibat hilangnya mangrove menyebabkan penurunan kualitas air, erosi pantai, serta ketidakstabilan hasil panen karena hilangnya fungsi ekosistem sebagai penyedia pakan alami dan penjaga keseimbangan biologis. Paradigma yang mengorbankan alam demi produktivitas jangka pendek ini perlu diubah untuk mewujudkan tambak berkelanjutan yang tangguh menghadapi perubahan iklim.

SECURE: Model Inovatif Tambak Ramah Lingkungan

Kabupaten Berau, Kalimantan Timur, menjadi bukti nyata bahwa perubahan paradigma tersebut bukan hanya mungkin, tetapi juga sangat menguntungkan. Di sini, kolaborasi antara Yayasan Konservasi Alam Nusantara (YKAN), Dinas Perikanan Kabupaten Berau, dan masyarakat lokal di Kampung Pegat Batumbuk serta Kampung Suaran berhasil menerapkan sistem Shrimp Carbon Aquaculture (SECURE). Inovasi ini menawarkan pendekatan revolusioner dengan membalik logika lama: menjaga alam justru meningkatkan hasil. Sistem SECURE mengatur pemanfaatan lahan secara cerdas, di mana hanya sekitar 20% area digunakan untuk budidaya tambak intensif. Sementara itu, 80% sisanya dialokasikan untuk kawasan konservasi dan rehabilitasi mangrove. Cara kerja ini memulihkan fungsi ekologis mangrove sebagai penyerap karbon, penyedia pakan alami bagi udang dan ikan, serta penjaga kualitas air dan tanah di sekitar tambak.

Dampak Nyata: Produktivitas Naik, Ekosistem Pulih

Keberhasilan model ini tidak hanya berupa klaim, tetapi dibuktikan dengan data konkret hasil panen. Pada panen yang dilakukan pada 3 Juni 2026, penerapan sistem SECURE menghasilkan 115 kg udang windu, 141 kg udang bintik, 1,9 ton ikan bandeng, dan 50 kg kepiting bakau. Yang paling signifikan, produktivitas udang windu meningkat sekitar 15% dibandingkan dengan sistem konvensional. Data ini adalah bukti kuat bahwa menjaga dan merestorasi ekosistem justru meningkatkan keberlanjutan ekonomi. Sistem ini mengoptimalkan layanan alami yang disediakan oleh mangrove yang sehat, sehingga mengurangi ketergantungan pada input buatan dan meningkatkan daya tahan usaha budidaya terhadap fluktuasi lingkungan.

Dampak yang dihasilkan bersifat multidimensi. Secara lingkungan, reboisasi mangrove membantu mitigasi perubahan iklim melalui penyerapan karbon biru, meningkatkan keanekaragaman hayati, dan memperkuat ketahanan pantai. Secara ekonomi, kenaikan hasil panen dan diversifikasi produk (udang, bandeng, kepiting) memberikan pendapatan yang lebih stabil bagi petambak. Secara sosial, kolaborasi antara pemerintah, lembaga swadaya masyarakat, dan komunitas lokal memperkuat kelembagaan dan kapasitas masyarakat dalam mengelola sumber daya secara bertanggung jawab. Model tambak berkelanjutan ini menunjukkan bahwa ketahanan pangan dan kesejahteraan masyarakat pesisir justru bertumpu pada kelestarian alam.

Potensi replikasi model SECURE di berbagai daerah penghasil tambak di Indonesia sangatlah besar. Inovasi ini menawarkan jalan keluar yang aplikatif dari dilema klasik antara produksi dan konservasi. Untuk bisa diadopsi secara luas, diperlukan komitmen dan sinergi serupa antara pemerintah daerah, pelaku usaha, dan organisasi lingkungan. Refleksi dari kisah sukses Berau adalah bahwa masa depan pembangunan pesisir yang tangguh dan berkelanjutan bergantung pada kemampuan kita untuk berinovasi dengan merangkul alam, bukan menaklukkannya. Menjaga mangrove bukanlah biaya, melainkan investasi jangka panjang bagi ketahanan pangan, ekonomi lokal, dan ketahanan iklim bangsa.