Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di lahan gambut merupakan salah satu tantangan lingkungan terbesar di Indonesia. Sifat gambut yang mudah terbakar dan sulit dipadamkan dengan air biasa menjadi kendala utama, terutama karena suhu api gambut bisa mencapai lebih dari 500 derajat Celsius, sementara air mendidih pada 100 derajat Celsius. Akibatnya, pemadaman menggunakan air menjadi tidak efisien dan memboroskan sumber daya air yang sangat berharga, terutama di musim kemarau. Di sinilah Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menghadirkan terobosan inovatif: formula Singkong-APP, yang menggabungkan pati singkong dengan senyawa amonium polifosfat (APP).
Inovasi Singkong-APP: Cara Kerja dan Efisiensi Pemadaman
Formula Singkong-APP bekerja dengan cara yang unik dan efektif. Saat terpapar panas tinggi, senyawa dalam formula ini bereaksi dan membentuk lapisan isolator tebal yang disebut 'char'. Lapisan ini secara efektif menghambat perpindahan panas dan memutus akses oksigen ke bahan bakar gambut, sehingga api dapat dipadamkan lebih cepat tanpa perlu volume air yang besar. Hasil pengujian BRIN menunjukkan efisiensi yang signifikan: untuk memadamkan api dalam kondisi uji yang sama, air biasa membutuhkan 120 liter, sedangkan Singkong-APP hanya memerlukan 65 liter—hemat hingga 46 persen. Selain itu, waktu pemadaman pun berkurang drastis, dari 23 menit 35 detik menjadi hanya 15 menit. Inovasi ini tidak hanya menghemat air, tetapi juga mempercepat respons penanggulangan karhutla.
Dampak Lingkungan, Ekonomi, dan Potensi Replikasi
Dari sisi lingkungan, formula ini berkontribusi langsung pada konservasi sumber daya air yang sangat terbatas saat musim kemarau dan kebakaran. Penggunaan air yang lebih efisien mengurangi tekanan pada ekosistem air tanah dan permukaan. Secara ekonomi, efisiensi volume air dan waktu pemadaman berarti pengurangan biaya operasional logistik, termasuk transportasi air dan tenaga kerja. Hal ini sangat relevan untuk daerah rawan karhutla seperti Sumatera dan Kalimantan, di mana akses air seringkali sulit. Yang lebih menggembirakan, bahan baku utama formula ini adalah singkong—komoditas lokal yang melimpah di Indonesia. Potensi replikasi dan produksi massal oleh industri dalam negeri sangat terbuka lebar, sehingga solusi ini dapat diintegrasikan ke dalam strategi pemadaman karhutla nasional secara berkelanjutan.
Inovasi BRIN ini membuktikan bahwa riset dan pengembangan berbasis sumber daya lokal mampu menghasilkan solusi nyata untuk masalah lingkungan yang kompleks. Dengan adopsi yang meluas, pemadaman api gambut tidak lagi bergantung pada air dalam jumlah besar, melainkan pada kecerdasan formula yang lebih cerdas dan ramah lingkungan. Langkah selanjutnya adalah mendorong produksi massal serta uji coba lapangan di berbagai kondisi gambut. Jika berhasil, dalam beberapa tahun ke depan, Singkong-APP bisa menjadi andalan baru dalam upaya pencegahan dan penanggulangan karhutla di Indonesia, sekaligus membuka peluang ekonomi baru bagi petani singkong dan industri kimia nasional. Inilah wujud inovasi yang solutif, inspiratif, dan aplikatif untuk ketahanan lingkungan dan keberlanjutan.