Banjir merupakan ancaman tahunan yang melumpuhkan aktivitas warga Jakarta dan menyebabkan kerugian ekonomi signifikan. Melihat kondisi ini, Dinas Sumber Daya Air DKI Jakarta meluncurkan inovasi sistem peringatan dini berbasis IoT (Internet of Things) yang dipasang di 50 titik rawan genangan. Langkah ini menjadi solusi konkret untuk mengubah respons banjir dari reaktif menjadi preventif, sekaligus memperkuat ketahanan kota terhadap perubahan iklim.
Cara Kerja Sistem Peringatan Dini Berbasis IoT
Sensor IoT yang ditempatkan di titik-titik strategis mampu mengukur tinggi muka air, intensitas hujan, dan kecepatan arus secara real-time. Data tersebut dikirim ke pusat kontrol melalui jaringan LoRaWAN, lalu diolah menggunakan algoritma machine learning untuk memprediksi genangan 2–3 jam sebelum terjadi. Hasil prediksi langsung diteruskan ke aplikasi mobile yang memberikan notifikasi kepada warga dan dinas terkait, sehingga peringatan dini dapat disebar dengan cepat dan akurat. Selain itu, sistem ini terintegrasi dengan pompa air otomatis yang aktif ketika sensor mendeteksi ketinggian air melebihi ambang batas, mempercepat pengurasan genangan tanpa menunggu instruksi manual.
Dampak Nyata dan Potensi Replikasi
Sejak diuji pada Desember 2025, sistem ini berhasil memprediksi banjir di kawasan Cawang dan Pasar Minggu dengan akurasi 90%. Dampaknya langsung terasa: waktu tanggap darurat meningkat hingga 40% dan jumlah kerugian material menurun drastis. Keberhasilan ini membuka peluang pengembangan ke kota-kota rawan banjir lain seperti Bandung dan Semarang. Dengan adaptasi pada karakteristik lokal, teknologi peringatan dini berbasis IoT ini dapat menjadi model solusi keberlanjutan yang mengurangi risiko bencana dan memperkuat ketahanan masyarakat. Inovasi semacam ini membuktikan bahwa integrasi antara data, sensor, dan kecerdasan buatan mampu memberikan respons yang lebih cerdas terhadap krisis iklim yang kian tidak menentu.