Konflik antara konservasi mangrove dan pembangunan ekonomi pesisir melalui tambak tradisional telah lama menjadi tantangan di Indonesia. Alih fungsi lahan untuk tambak intensif seringkali mengorbankan hutan bakau yang berperan krusial sebagai penyerap karbon, penahan abrasi, dan habitat biota laut. Surabaya menjawab dilema klasik ini dengan inovasi berkelanjutan berupa pengembangan model silvofishery atau wanamina. Ini merupakan terobosan integratif yang memadukan budidaya perikanan produktif dengan restorasi ekologi mangrove dalam satu ekosistem yang saling mendukung dan harmonis.
Mengubah Paradigma: Ekonomi dan Ekologi dalam Satu Sistem Terpadu
Inovasi yang digagas oleh Badan Riset dan Inovasi Daerah (BRIDA) dan Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kota Surabaya ini mendasarkan diri pada konsep integrasi hijau-biru. Model wanamina secara cerdas memadukan mangrove dan budidaya tambak sebagai satu kesatuan simbiosis mutualisme. Pendekatannya adalah dengan menanam dan merawat mangrove secara intensif di dalam area tambak. Akar mangrove berfungsi sebagai filter alami yang menjaga kualitas air, menstabilkan tanah, serta menyediakan habitat dan sumber pakan alami bagi ikan, udang, dan kepiting. Solusi ini membuktikan bahwa aktivitas ekonomi di pesisir tidak harus merusak lingkungan, tetapi justru dapat aktif memulihkannya.
Dampak Holistik: Bukti Keberhasilan dari Lapangan
Keberhasilan aplikatif model ini telah terbukti secara nyata. Di kawasan mangrove Wonorejo, Surabaya, tambak silvofishery seluas satu hektar pada tahun 2021 berhasil menghasilkan sekitar 1,25 ton bandeng dan udang vaname. Capaian ini menjadi bukti empiris bahwa kehadiran mangrove justru mendukung produktivitas yang lebih stabil dan berkelanjutan dalam jangka panjang, berbeda dengan sistem tambak monokultur yang rentan terhadap penyakit dan penurunan kualitas lingkungan. Dampaknya bersifat menyeluruh: ekologis dengan pemulihan hutan mangrove sebagai penyerap karbon biru; ekonomis dengan menciptakan mata pencaharian tangguh bagi pembudidaya; serta sosial dengan meningkatkan ketahanan komunitas pesisir terhadap dampak perubahan iklim.
Potensi replikasi model wanamina ini sangat besar, mengingat Indonesia adalah pemilik hutan mangrove terluas di dunia. Langkah strategis Surabaya dengan berkolaborasi bersama Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) untuk mengembangkan Kebun Raya Mangrove sebagai laboratorium hidup merupakan terobosan penting. Kebun raya ini tidak hanya berfungsi sebagai pusat konservasi, tetapi juga menjadi wahana edukasi dan riset untuk menyempurnakan teknik serta mempercepat adopsi silvofishery di berbagai wilayah lain di Indonesia.
Penerapan silvofishery di Surabaya menjadi teladan konkret bahwa pembangunan dapat bersifat regeneratif. Inovasi ini mengajarkan bahwa solusi atas tantangan krisis lingkungan dan ketahanan pangan seringkali terletak pada kerja sama yang erat antara ekosistem alami dan aktivitas manusia. Dengan pendekatan yang terintegrasi dan berbasis alam, kita tidak hanya dapat memenuhi kebutuhan ekonomi, tetapi juga sekaligus memperkuat ketahanan ekologi dan sosial masyarakat pesisir untuk masa depan yang lebih berkelanjutan.