Beranda / Ketahanan Pangan Nasional / Riset Kolaboratif Hasilkan Padi Varietas Unggul Tahan Kekeri...
Ketahanan Pangan Nasional

Riset Kolaboratif Hasilkan Padi Varietas Unggul Tahan Kekeringan dan Rendah Emisi

Riset Kolaboratif Hasilkan Padi Varietas Unggul Tahan Kekeringan dan Rendah Emisi

Inovasi padi varietas unggul tahan kekeringan hasil riset BRIN dan IRRI, seperti 'Inpari IR Nutri Zinc', menawarkan solusi ganda: menjaga produktivitas di tengah perubahan iklim sekaligus mendukung sistem tanam AWD yang mampu memotong emisi metana hingga 50%. Dampaknya meliputi ketahanan pangan, perlindungan petani, dan kontribusi pada target penurunan emisi nasional, dengan potensi replikasi yang luas di seluruh sentra produksi.

Ancaman perubahan iklim yang semakin nyata telah menempatkan sektor pertanian padi Indonesia pada posisi yang rentan. Frekuensi kekeringan yang meningkat mengancam produktivitas, sementara sistem sawah basah tradisional menjadi salah satu sumber emisi metana. Menghadapi tantangan ganda ini, sebuah terobosan penting dihasilkan melalui kerja sama riset kolaboratif antara Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dan International Rice Research Institute (IRRI). Hasilnya adalah pelepasan dua varietas unggul baru yang secara simultan menjawab masalah adaptasi dan mitigasi perubahan iklim.

Strategi Cerdas Mengatasi Dua Tantangan Sekaligus

Kedua varietas, yakni 'Inpari IR Nutri Zinc' dan 'Inpari IR Blas', dikembangkan melalui pendekatan yang komprehensif, menggabungkan pemuliaan konvensional dengan teknologi molekuler canggih. Keunggulan utama dari inovasi ini adalah ketahanan tanaman terhadap kondisi cekaman kekeringan. Hal ini sangat krusial untuk menjaga stabilitas produksi padi di lahan tadah hujan dan wilayah yang sering mengalami musim kemarau panjang, sehingga secara langsung berkontribusi pada ketahanan pangan nasional.

Inovasi tidak berhenti pada level benih. Kedua varietas ini didesain untuk dapat diterapkan bersama sistem budidaya ramah lingkungan yang disebut 'Alternate Wetting and Drying' (AWD). Sistem ini memodifikasi pengairan sawah dengan cara tidak terus-menerus tergenang, melainkan dibiarkan kering secara berkala. Kombinasi antara varietas unggul tahan kering dan teknik AWD ini menghasilkan dampak ganda: produktivitas terjaga dan emisi metana dari sawah dapat ditekan secara signifikan, mencapai 30 hingga 50 persen.

Dampak Nasional dan Peluang Replikasi yang Luas

Dampak dari temuan ini bersifat sistemik dan strategis. Dari sisi ekonomi dan sosial, varietas tahan kekeringan memberikan perlindungan bagi petani dari risiko gagal panen akibat cuaca ekstrem, sekaligus menjamin pasokan beras. Dari perspektif lingkungan, praktik AWD menciptakan model pertanian padi yang rendah emisi, selaras dengan komitmen Indonesia dalam penurunan emisi gas rumah kaca.

Potensi replikasi inovasi ini sangat luas. Varietas-varietas baru tersebut sudah mulai didistribusikan kepada petani melalui berbagai program pemerintah dan koperasi benih. Skalabilitasnya dapat menjangkau hampir seluruh sentra produksi padi di tanah air, dari sawah irigasi hingga lahan tadah hujan. Ini membuktikan bahwa solusi untuk krisis iklim dan ketahanan pangan dapat terintegrasi dengan baik.

Kesuksusan riset kolaboratif ini menjadi bukti nyata bahwa jalan menuju pertanian berkelanjutan adalah dengan mengembangkan solusi yang menyeluruh. Inovasi tidak hanya tentang menciptakan benih yang lebih kuat, tetapi juga tentang merancang sistem budidaya yang selaras dengan alam. Kolaborasi antara lembaga riset nasional dan internasional menjadi kunci dalam menghasilkan terobosan yang relevan dengan tantangan global saat ini, menunjukkan bahwa adaptasi dan mitigasi dapat berjalan beriringan untuk menciptakan ketahanan pangan yang tangguh dan ramah lingkungan.