Lahan gambut di Kalimantan yang terdegradasi akibat pengeringan untuk perkebunan telah menjadi sumber emisi karbon masif dan sangat rawan kebakaran, terutama saat musim kemarau. Kondisi ini tidak hanya memperparah perubahan iklim, tetapi juga mengancam keanekaragaman hayati dan kesehatan masyarakat akibat kabut asap lintas batas. Untuk memulihkan fungsi ekologisnya, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) bersama mitra lokal mengimplementasikan teknologi restorasi gambut berbasis hidrologi yang inovatif dan ramah lingkungan.
Inovasi Teknologi Restorasi Gambut
Inovasi utama dalam upaya restorasi ini adalah pembangunan sekat kanal (canal blocking) yang terbuat dari bahan lokal seperti kayu atau bambu, sehingga ramah lingkungan dan mudah diadopsi masyarakat. Sekat kanal berfungsi menghambat aliran air keluar dari lahan gambut, menjaga kelembaban alaminya, dan mencegah pengeringan lebih lanjut. Di area yang lebih kritis, teknologi pompa bertenaga surya atau manual digunakan untuk membasahi kembali (rewetting) permukaan gambut yang kering. Pendekatan ini murah, menggunakan sumber daya setempat, dan melibatkan masyarakat dalam pembangunan serta pemeliharaannya, sehingga meningkatkan rasa kepemilikan dan keberlanjutan program.
Cara kerja teknologi ini sederhana namun efektif: dengan menghambat drainase dan mengembalikan air ke lahan gambut, kelembaban tanah terjaga, sehingga proses dekomposisi bahan organik penghasil karbon terhambat. Hal ini secara langsung mengurangi emisi karbon dari lahan gambut yang terdegradasi. Selain itu, kondisi basah secara alami juga menekan risiko kebakaran lahan, yang selama ini menjadi masalah utama di musim kemarau. Teknologi restorasi ini tidak memerlukan biaya besar dan dapat diterapkan secara bertahap, menjadikannya solusi yang aplikatif bagi petani dan komunitas lokal.
Dampak dan Potensi Replikasi
Dampak restorasi gambut dengan teknologi ini sangat signifikan bagi mitigasi perubahan iklim global. Gambut yang sehat mampu menyimpan karbon dalam jumlah besar, sehingga setiap upaya restorasi berkontribusi langsung pada target pengurangan emisi nasional dan global. Risiko kebakaran lahan yang drastis menurun juga melindungi biodiversitas, kesehatan masyarakat, dan menghindari kerugian ekonomi akibat kabut asap. Lebih jauh lagi, kelembaban gambut yang terjaga membuka peluang mata pencaharian berkelanjutan seperti perikanan air tawar atau paludikultur—pertanian di lahan basah yang ramah gambut. Hal ini menunjukkan bahwa restorasi tidak hanya menyelesaikan masalah lingkungan, tetapi juga menciptakan nilai ekonomi bagi masyarakat.
Potensi replikasi teknologi sekat kanal dan pompa ramah lingkungan ini sangat tinggi di seluruh wilayah gambut Indonesia yang terdegradasi, terutama di Sumatra, Kalimantan, dan Papua. Dengan pendekatan partisipatif dan bahan lokal, inovasi ini menjadi kunci untuk mencapai target pengurangan emisi dari sektor kehutanan dan penggunaan lahan. Keberhasilan di Kalimantan dapat menjadi model bagi daerah lain, sekaligus memperkuat ketahanan pangan dan mata pencaharian masyarakat. Inovasi ini membuktikan bahwa solusi berbasis alam yang sederhana, terjangkau, dan melibatkan komunitas lokal mampu memberikan dampak besar bagi keberlanjutan planet kita.