Kelurahan Citarum di Kota Bandung, yang selama bertahun-tahun menjadi langganan banjir setiap musim hujan, kini menunjukkan wajah baru yang hijau dan tangguh. Transformasi ini terjadi melalui penerapan Program Kampung Iklim (ProKlim) yang tidak hanya berhasil menurunkan risiko banjir secara signifikan, tetapi juga menghidupkan roda perekonomian warga. Inisiatif ini membuktikan bahwa solusi berbasis komunitas dapat menjadi jawaban konkret dalam menghadapi krisis iklim dan memperkuat ketahanan pangan di tingkat lokal.
Inovasi Adaptasi Iklim: Biopori hingga Taman Vertikal
Untuk mengatasi genangan air yang kerap melumpuhkan aktivitas, warga bersama pemerintah setempat membangun infrastruktur hijau sederhana namun efektif. Lebih dari 300 kepala keluarga (KK) di kelurahan ini berpartisipasi aktif dalam pembuatan biopori dan sumur resapan di setiap pekarangan rumah. Hasilnya sangat nyata: dalam kurun waktu satu tahun, titik genangan banjir berhasil ditekan hingga 80 persen. Selain itu, penerapan taman vertikal dan penghijauan di lahan sempit turut memulihkan kualitas udara di kawasan padat penduduk ini. Pendekatan adaptasi iklim berbasis partisipasi warga inilah yang menjadi kunci keberhasilan ProKlim di Kelurahan Citarum.
Dampak Ekonomi dan Lingkungan yang Berkelanjutan
Program ini tidak berhenti pada pengendalian banjir. Warga juga mengelola sampah rumah tangga secara mandiri dengan mengubahnya menjadi kompos dan ecobrick, sehingga mengurangi volume sampah yang dikirim ke TPA. Lebih dari itu, inisiatif ini melahirkan bank sampah yang mampu menghasilkan pendapatan hingga Rp 7 juta per bulan. Tak hanya itu, lahan sempit yang ada dimanfaatkan secara optimal untuk budidaya sayuran hidroponik, yang hasilnya dijual dan menambah penghasilan keluarga. Dengan demikian, kampung iklim ini tidak hanya menjadi solusi atas masalah lingkungan, tetapi juga menjadi motor penggerak ekonomi kerakyatan yang tangguh.
Keberhasilan Kelurahan Citarum dalam menjalankan ProKlim mendapatkan pengakuan resmi dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) sebagai ProKlim Utama. Capaian ini menjadi bukti bahwa program adaptasi iklim yang melibatkan masyarakat secara penuh dapat memberikan dampak multisektoral yang positif. Ke depannya, konsep serupa direncanakan akan direplikasi di 15 kelurahan lain di wilayah Bandung Raya. Hal ini menunjukkan potensi besar untuk mengembangkan model adaptasi iklim berbasis komunitas secara massif, tidak hanya untuk menekan risiko banjir, tetapi juga untuk membangun kemandirian pangan dan ekonomi hijau dari tingkat akar rumput.