Beranda / Ketahanan Pangan / Perkuat Ketahanan Pangan dan Ekonomi Desa, Pertamina Gelar P...
Ketahanan Pangan

Perkuat Ketahanan Pangan dan Ekonomi Desa, Pertamina Gelar Panen Raya Nangka di Hutan Wanaboga Gunungkidul

Perkuat Ketahanan Pangan dan Ekonomi Desa, Pertamina Gelar Panen Raya Nangka di Hutan Wanaboga Gunungkidul

Program Hutan Lestari Wanaboga Nangka di Gunungkidul menjadi contoh nyata kolaborasi multi-pihak untuk memperkuat ketahanan pangan dan ekonomi desa. Dengan mengoptimalkan lahan karst seluas 87 hektare, program ini menjawab defisit pasokan gori industri gudeg Yogyakarta sekaligus memberdayakan 400 petani dan menghijaukan lahan kritis. Model hutan pangan ini pun berpotensi direplikasi di berbagai daerah di Indonesia.

Industri kuliner gudeg Yogyakarta, yang selama ini menjadi kebanggaan daerah, ternyata menyimpan persoalan serius dalam hal ketahanan pangan. Setiap harinya, industri ini membutuhkan sekitar sembilan ton nangka muda atau gori sebagai bahan baku utama, sementara produksi lokal DIY baru mampu memasok sekitar dua ton. Defisit yang signifikan ini membuat pasokan gori sangat bergantung pada daerah luar dan rentan terhadap gangguan distribusi. Di sisi lain, kawasan hutan Gunungkidul yang didominasi lahan kering karst belum dimanfaatkan optimal untuk mendukung kebutuhan pangan masyarakat. Dari sinilah urgensi lahirnya inovasi hutan pangan yang mampu menjawab masalah pangan sekaligus memulihkan lahan kritis.

Hutan Pangan sebagai Jembatan Ketahanan Pangan dan Ekonomi Desa

Menjawab tantangan tersebut, lahirlah Program Hutan Lestari Wanaboga Nangka yang dikembangkan di kawasan hutan seluas 87 hektare di Gunungkidul. Program ini merupakan wujud nyata dari kolaborasi multi-pihak antara Pertamina Foundation, Universitas Gadjah Mada (UGM), Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) DIY, serta kelompok tani lokal. Dengan mengusung konsep hutan pangan, lahan kering karst yang selama ini kurang produktif disulap menjadi kawasan budidaya nangka yang memberdayakan sekitar 400 petani. Lebih dari sekadar penanaman pohon, inisiatif ini membangun ekosistem ekonomi dari hulu ke hilir, dimulai dari penyediaan bibit unggul, pendampingan teknis, hingga kepastian pasar dari industri gudeg yang siap menyerap hasil panen.

Pendekatan yang digunakan dalam program hutan pangan ini dirancang adaptif terhadap kondisi lahan kering Gunungkidul. Sistem tumpangsari diterapkan untuk menjaga produktivitas lahan dan memberikan tambahan pendapatan bagi petani, sementara pengairan berbasis energi bersih menjadi solusi inovatif untuk mengatasi keterbatasan air. Dengan perpaduan tersebut, upaya konservasi dan pemenuhan kebutuhan ekonomi dapat berjalan beriringan. Pendampingan dari UGM memberikan bekal pengetahuan bagi para petani dalam membudidayakan nangka sekaligus merawat fungsi ekologis kawasan hutan. Hasilnya, program ini tidak hanya menghasilkan komoditas pangan, tetapi juga membangun kesadaran kolektif akan pentingnya menjaga keseimbangan alam.

Dampak Nyata dan Masa Depan Hutan Pangan Indonesia

Dampak yang dihasilkan program ini bersifat multidimensi, menyentuh aspek ekonomi, sosial, dan lingkungan sekaligus. Secara ekonomi, pendapatan petani yang tergabung dalam kelompok tani meningkat, dan defisit pasokan bahan baku lokal berhasil ditekan sehingga memperkuat kemandirian ekonomi daerah. Dari sisi ketahanan pangan, keberadaan lumbung pangan berbasis hutan menjamin stabilitas pasokan bahan pangan strategis bagi industri maupun masyarakat luas. Sementara itu, aspek lingkungan memperoleh manfaat melalui penghijauan lahan kritis yang selama ini rentan terhadap degradasi. Model ini membuktikan bahwa pemberdayaan ekonomi desa dan pelestarian lingkungan dapat berjalan sinergis.

Keberhasilan Wanaboga Nangka membuka peluang besar untuk direplikasi di kawasan hutan lain di Indonesia. Dengan mengangkat komoditas lokal unggulan di masing-masing daerah, setiap wilayah dapat membangun hutan pangan yang mendukung ketahanan pangan nasional sekaligus memperkuat ekonomi desa secara berkelanjutan. Yang diperlukan adalah komitmen bersama untuk terus menghidupkan kolaborasi multi-pihak antara pemerintah, akademisi, dunia usaha, dan masyarakat. Refleksi yang bisa kita petik adalah bahwa hutan bukan sekadar ruang hijau yang harus dilindungi, melainkan juga sumber kehidupan yang dapat dimanfaatkan secara bijak. Melalui inovasi dan kerja sama yang terarah, krisis pangan dan krisis lingkungan bukanlah akhir, melainkan awal dari lahirnya solusi-solusi kreatif yang membawa manfaat bagi generasi mendatang.

Organisasi: Pertamina, Pertamina Foundation, Universitas Gadjah Mada, Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan DIY