Beranda / Teknologi Ramah Bumi / Panel Surya Apung di Bendungan untuk Irigasi Hemat Air Petan...
Teknologi Ramah Bumi

Panel Surya Apung di Bendungan untuk Irigasi Hemat Air Petani di Lombok

Panel Surya Apung di Bendungan untuk Irigasi Hemat Air Petani di Lombok

Pemasangan 200 panel surya apung di Bendungan Batujai, Lombok Tengah, berhasil menggerakkan pompa irigasi untuk 500 hektar sawah tanpa bahan bakar fosil, sekaligus mengurangi penguapan air bendungan hingga 20%. Inovasi ini meningkatkan produktivitas padi 1,5 ton per hektar dan menekan biaya operasional secara drastis. Keberhasilan ini membuka jalan replikasi di bendungan lain di Nusa Tenggara untuk memperkuat ketahanan pangan dan keberlanjutan lingkungan.

Di tengah krisis iklim yang semakin nyata, sektor pertanian menjadi salah satu yang paling terdampak. Keterbatasan air irigasi dan tingginya biaya operasional berbasis bahan bakar fosil seringkali menjadi penghambat utama produktivitas petani. Di Nusa Tenggara Barat, khususnya di Lombok Tengah, permasalahan ini menemukan titik terang melalui inovasi energi surya yang diterapkan pada sistem irigasi. Pemerintah Provinsi NTB bersama Institut Teknologi Bandung (ITB) menghadirkan solusi terintegrasi yang tidak hanya hemat energi, tetapi juga ramah lingkungan dan berdaya guna bagi ketahanan pangan lokal.

Inovasi Panel Surya Apung: Solusi Irigasi Hemat Air dan Energi

Sebanyak 200 panel surya apung dipasang di permukaan Bendungan Batujai, Lombok Tengah. Sistem ini dirancang untuk menggerakkan pompa irigasi yang mengairi lahan sawah seluas 500 hektar tanpa memerlukan setetes pun bahan bakar fosil. Dengan kapasitas pembangkit listrik sebesar 50 kWp, panel-panel ini tidak hanya menghasilkan energi bersih, tetapi juga memberikan efek ganda yang tak terduga: mengurangi penguapan air bendungan hingga 20%. Ini adalah terobosan penting, mengingat tingkat evaporasi tinggi di daerah tropis seringkali menjadi penyebab utama berkurangnya volume air cadangan. Cara kerjanya sederhana namun efektif: panel surya yang mengapung di atas permukaan air secara alami menaungi air dari sinar matahari langsung, sehingga laju penguapan berkurang drastis. Listrik yang dihasilkan kemudian digunakan untuk mengoperasikan pompa irigasi secara presisi, di mana petani dapat mengatur jadwal irigasi melalui aplikasi ponsel. Pendekatan berbasis teknologi ini memberikan kendali penuh kepada petani atas ketersediaan air untuk sawah mereka.

Dampak Nyata bagi Petani dan Lingkungan

Penerapan energi surya dan panel apung ini telah membawa dampak positif yang terukur. Dari sisi ekonomi, produktivitas padi meningkat signifikan, yakni sebesar 1,5 ton per hektar. Kenaikan ini terjadi karena pasokan air yang lebih stabil dan tepat waktu berkat sistem kontrol melalui aplikasi. Di sisi lain, biaya operasional irigasi turun drastis karena tidak lagi bergantung pada bahan bakar minyak yang harganya fluktuatif. Dari segi lingkungan, pengurangan penguapan air bendungan menjadi kontribusi nyata dalam konservasi sumber daya air di tengah ancaman kekeringan. Lebih dari itu, penggunaan energi bersih ini turut mengurangi emisi karbon dari sektor pertanian. Dengan hasil yang demikian, inovasi ini tidak hanya memperkuat ketahanan pangan di tingkat lokal, tetapi juga memberikan model bisnis yang berkelanjutan bagi petani.

Keberhasilan proyek percontohan di Bendungan Batujai ini membuka peluang besar untuk direplikasi di bendungan-bendungan lain di Nusa Tenggara. Wilayah yang selama ini identik dengan curah hujan rendah dan musim kemarau panjang dapat mengambil manfaat dari sistem yang sama. Apalagi, teknologi panel surya apung ini tidak memerlukan lahan darat yang terbatas, sehingga sangat cocok untuk daerah dengan kepadatan penduduk tinggi atau lahan pertanian sempit. Pemerintah daerah dan lembaga riset kini tengah mempertimbangkan perluasan ke bendungan-bendungan lain, yang berarti potensi dampak positifnya akan semakin meluas. Inilah wujud nyata bagaimana inovasi teknologi dapat menjadi jembatan antara kebutuhan ekonomi petani, kelestarian lingkungan, dan tujuan jangka panjang pembangunan berkelanjutan. Melihat kesuksesan ini, sudah saatnya kita mendorong adopsi solusi serupa di berbagai wilayah rawan air di Indonesia, demi masa depan pertanian yang lebih tangguh dan ramah lingkungan.

Organisasi: Pemerintah NTB, Institut Teknologi Bandung