Beranda / Ekologi Terapan/Inovasi Hayati / Mikroalga Lokal Dikembangkan Sebagai Bahan Bakar Bioavtur da...
Ekologi Terapan/Inovasi Hayati

Mikroalga Lokal Dikembangkan Sebagai Bahan Bakar Bioavtur dan Pakan Ternak di Bali

Mikroalga Lokal Dikembangkan Sebagai Bahan Bakar Bioavtur dan Pakan Ternak di Bali

Peneliti Universitas Udayana mengembangkan mikroalga Spirulina dan Chlorella di tambak garam non-produktif di Bali sebagai bahan baku bioavtur yang mengurangi emisi karbon hingga 70% dan pakan ternak berprotein tinggi yang menekan biaya pakan hingga 25%. Lima desa pesisir kini terlibat sebagai pemasok biomassa, dengan rencana pembangunan biorefinery komersial dan pengembangan varietas unggul lokal.

Krisis energi global dan tingginya ketergantungan Indonesia pada impor pakan ternak menjadi dua persoalan besar yang saling terkait. Menjawab tantangan tersebut, peneliti Universitas Udayana mengembangkan inovasi berbasis mikroalga jenis Spirulina dan Chlorella yang dikultivasi di lahan tambak garam non-produktif di Bali. Pendekatan ini tidak hanya menyediakan alternatif energi terbarukan, tetapi juga membuka jalan bagi kemandirian pakan ternak yang selama ini membebani peternak lokal.

Mikroalga sebagai Bahan Bakar Bioavtur dan Pakan Ternak

Pengembangan mikroalga di tambak garam non-produktif memiliki nilai ganda yang luar biasa. Pertama, mikroalga diolah menjadi bioavtur yang telah diuji coba oleh maskapai nasional. Hasil pengujian menunjukkan bahwa bioavtur berbasis mikroalga mampu mengurangi emisi karbon hingga 70 persen dibandingkan avtur konvensional. Angka ini menjadikan mikroalga sebagai salah satu kandidat terkuat dalam transisi menuju penerbangan rendah karbon di Indonesia.

Kedua, biomassa mikroalga juga dimanfaatkan sebagai pakan ternak alternatif dengan kandungan protein tinggi. Dengan mengganti sebagian pakan konvensional menggunakan mikroalga, peternak dapat menekan biaya pakan hingga 25 persen. Ini merupakan solusi strategis di tengah melonjaknya harga pakan impor dan menurunnya daya beli peternak kecil.

Keterlibatan Masyarakat Pesisir dan Prospek Ke Depan

Keberhasilan program ini tidak lepas dari pendekatan partisipatif yang melibatkan masyarakat lokal. Sebanyak lima desa pesisir di Bali kini berperan sebagai pemasok biomassa alga. Petani tambak yang sebelumnya mengandalkan lahan garam yang kurang produktif dapat memperoleh penghasilan tambahan sekaligus berkontribusi pada ekonomi hijau yang berkelanjutan.

Ke depan, para peneliti berencana membangun biorefinery skala komersial untuk memperkuat hilirisasi produk mikroalga. Selain itu, pengembangan varietas unggul lokal akan terus dilakukan agar produktivitas dan kualitas biomassa semakin meningkat. Dengan adanya infrastruktur dan riset berkelanjutan, model ini sangat potensial untuk direplikasi di daerah pesisir lain yang memiliki lahan tambak non-produktif serupa.

Inovasi mikroalga di Bali menunjukkan bahwa krisis energi dan pangan sebenarnya dapat diubah menjadi peluang nyata. Dengan memanfaatkan sumber daya lokal dan melibatkan komunitas, kita tidak hanya membangun ketahanan energi dan pangan, tetapi juga menegaskan bahwa solusi keberlanjutan bisa lahir dari riset yang berpihak pada alam dan masyarakat.

Organisasi: Universitas Udayana