Setiap hari, pasar-pasar tradisional di Surabaya menghasilkan hingga 120 ton sampah organik. Sebelumnya, limbah ini berakhir di tempat pembuangan akhir (TPA) dan melepaskan gas metana yang berkontribusi terhadap pemanasan global. Kondisi ini menjadi masalah serius bagi ketahanan lingkungan dan kesehatan warga kota. Namun, di balik tumpukan sampah tersebut, tersimpan peluang besar untuk menciptakan solusi berkelanjutan yang mengubah masalah menjadi berkah, terutama melalui inovasi maggot BSF sebagai bagian dari ekonomi sirkular.
Di tengah tantangan pengelolaan limbah, sebuah startup sosial yang didukung oleh Pemerintah Kota Surabaya menghadirkan inovasi berbasis larva Black Soldier Fly (BSF) atau yang dikenal sebagai maggot BSF. Teknologi ini tidak hanya mengurangi volume sampah, tetapi juga mengubahnya menjadi produk bernilai ekonomi tinggi sebagai pakan ternak. Menurut data Dinas Lingkungan Hidup Kota Surabaya, maggot mampu mengonsumsi hingga 80% dari berat sampah organik yang diberikan. Sampah organik dari pasar diangkut ke unit budidaya, dicacah, dan dicampur sebelum diberikan kepada larva. Dalam beberapa hari, larva yang rakus ini mengubah sampah menjadi biomassa tubuhnya. Larva tersebut mengandung protein hingga 40% dan lemak tinggi, sehingga sangat cocok dijadikan pakan ternak alternatif yang murah dan bergizi. Sisa kotoran maggot yang disebut kasgot juga menjadi pupuk organik yang kaya nutrisi, menghasilkan solusi menyeluruh bagi siklus pangan dan pertanian.
Dampak Nyata bagi Peternak, Petani, dan Lingkungan
Inovasi ini telah memberikan dampak ekonomi yang signifikan bagi para peternak mitra. Kelompok peternak yang memanfaatkan maggot BSF sebagai pakan ternak merasakan penurunan biaya pakan hingga 30%. Artinya, biaya produksi dapat ditekan, meningkatkan margin keuntungan, dan pada akhirnya mendukung ketahanan pangan lokal. Sementara itu, para petani cabai di sekitar lokasi budidaya juga diuntungkan dengan adanya pupuk organik kasgot yang laris dan lebih ramah lingkungan dibandingkan pupuk kimia. Selain manfaat ekonomi, pendekatan ini memberikan dampak lingkungan yang nyata. Dengan mengurangi sampah yang berakhir di TPA, emisi gas metana dapat ditekan secara signifikan. Pengelolaan limbah yang lebih efektif juga berarti kota menjadi lebih bersih dan sehat.
Kehadiran maggot BSF dalam pengelolaan limbah telah menarik perhatian banyak kota lain di Indonesia yang ingin meniru model ekonomi sirkular ini. Surabaya menjadi contoh nyata bagaimana inovasi berbasis lokal mampu menjawab persoalan global. Ke depan, Pemerintah Kota Surabaya berencana untuk membangun unit pengolahan sampah berbasis maggot di setiap kecamatan. Langkah ini akan memperluas jangkauan solusi dan melibatkan lebih banyak masyarakat dan mitra dalam menciptakan sistem ekonomi sirkular yang tangguh. Inovasi ini membuktikan bahwa dengan pendekatan yang tepat, sampah organik bukan lagi beban melainkan sumber daya berharga yang dapat mendorong ketahanan pangan, mengurangi dampak lingkungan, dan memberdayakan ekonomi lokal.