Lahan karst di Gunungkidul, Yogyakarta, memiliki karakteristik yang sangat kering, terutama saat musim kemarau. Kondisi ini menjadi tantangan besar bagi pengembangan pertanian konvensional dan membuat lahan rentan terhadap degradasi. Namun, justru di tengah keterbatasan inilah, sebuah inovasi berbasis komunitas lahir untuk mengubah lahan kering menjadi sumber pangan yang produktif. Kolaborasi antara Pertamina Foundation, Universitas Gadjah Mada (UGM), dan Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) DIY melahirkan program Hutan Lestari Wanaboga Nangka seluas 87 hektare. Inisiatif ini merupakan solusi konkret yang menyulap lahan karst tandus menjadi hutan pangan yang berkelanjutan.
Mengubah Tantangan Lahan Kering Menjadi Peluang Hutan Pangan
Pendekatan inovatif dalam program ini adalah mengubah kawasan hutan marginal menjadi sumber pangan dengan menanam pohon nangka. Pohon nangka dipilih karena adaptasinya yang baik terhadap lahan kering karst dan potensinya sebagai bahan baku industri kuliner khas Yogyakarta, yaitu gudeg. Dengan demikian, hutan tidak hanya berfungsi secara ekologis, tetapi juga menjadi lumbung pangan yang nyata. Sistem tumpangsari diterapkan untuk mengoptimalkan penggunaan lahan, sehingga petani dapat menanam berbagai tanaman pangan di sela-sela pohon nangka. Selain itu, keterbatasan air diatasi dengan sistem pengairan berbasis energi bersih, memastikan pasokan air yang efisien dan ramah lingkungan. Program ini secara langsung melibatkan sekitar 400 petani lokal yang tergabung dalam Kelompok Tani Hutan, menjadikan mereka sebagai pengelola utama sekaligus penerima manfaat langsung.
Dampak Nyata bagi Lingkungan, Sosial, dan Ekonomi
Dampak jangka panjang dari program ini sangat multifungsi. Dari segi lingkungan, hutan pangan di lahan karst ini berhasil memulihkan fungsi ekologis kawasan, mencegah degradasi lahan lebih lanjut, dan menyerap karbon. Dari sisi sosial dan ekonomi, program ini menciptakan lumbung pangan berkelanjutan yang memperkuat ketahanan pangan masyarakat. Petani mendapatkan sumber pendapatan alternatif dari hasil panen nangka dan tanaman tumpangsari, serta dari pengembangan potensi eduwisata. Model pengelolaan hutan produktif berbasis komunitas ini membuktikan bahwa konservasi dan produksi pangan dapat berjalan beriringan. Kawasan yang sebelumnya dianggap marginal kini menjadi aset berharga bagi kesejahteraan masyarakat.
Potensi replikasi model ini sangat besar. Pendekatan serupa dapat diadaptasi di berbagai wilayah lahan kritis lainnya di Indonesia, terutama di daerah dengan karakteristik lahan kering dan karst yang serupa. Dengan kolaborasi multipihak dan partisipasi aktif masyarakat, lahan-lahan terdegradasi dapat disulap menjadi sumber pangan dan kehidupan. Program Hutan Lestari Wanaboga Nangka adalah contoh nyata bahwa inovasi dan solusi berbasis komunitas mampu mengatasi krisis lingkungan dan ketahanan pangan sekaligus. Keberhasilan ini menginspirasi kita untuk terus mencari cara-cara kreatif dalam memanfaatkan potensi alam secara bijak dan berkelanjutan.