Beranda / Solusi Praktis / Koperasi Perempuan di Lombok Kembangkan Model Agroforestri K...
Solusi Praktis

Koperasi Perempuan di Lombok Kembangkan Model Agroforestri Kakao- Kelapa untuk Mitigasi Krisis Iklim

Koperasi Perempuan di Lombok Kembangkan Model Agroforestri Kakao- Kelapa untuk Mitigasi Krisis Iklim

Koperasi Perempuan Lestari di Lombok mengembangkan model agroforestri kakao-kelapa yang mengatasi penurunan produktivitas akibat kekeringan. Sistem ini meningkatkan kelembaban tanah, menyerap karbon 12 ton per hektar per tahun, dan melipatgandakan pendapatan petani melalui diversifikasi produk. Inovasi ini siap direplikasi di sepuluh desa sebagai solusi mitigasi iklim yang berbasis kearifan lokal.

Perubahan iklim telah menjadi ancaman nyata bagi sektor pertanian di Indonesia, khususnya bagi para petani kakao di Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat. Kekeringan berkepanjangan menyebabkan produktivitas kakao menurun drastis dan memicu gagal panen di berbagai kawasan perkebunan. Di tengah tekanan ini, Koperasi Perempuan Lestari tampil dengan solusi inovatif: mengembangkan model agroforestri kakao-kelapa yang mengintegrasikan kakao dengan pohon kelapa serta tanaman sela seperti jahe dan kunyit. Pendekatan ini tidak hanya menyelamatkan produksi kakao, tetapi juga menjadi bagian penting dari upaya mitigasi iklim yang berdampak luas bagi komunitas dan lingkungan.

Menghidupkan Kembali Sistem Wanatani Tradisional

Model agroforestri yang dikembangkan oleh koperasi perempuan ini terinspirasi dari sistem wanatani tradisional yang telah lama dikenal masyarakat Indonesia. Dalam praktiknya, kakao ditanam di bawah naungan pohon kelapa, sementara jahe dan kunyit ditanam sebagai tanaman sela di antara komoditas utama. Kombinasi ini menciptakan ekosistem yang saling menguntungkan: pohon kelapa memberikan naungan alami yang menjaga kelembaban tanah, akar-akar tanaman sela membantu memperbaiki struktur tanah, dan kakao memperoleh kondisi mikro yang lebih stabil untuk tumbuh. Ciri kahs agroforestri ini adalah keberlanjutan yang dibangun dari kearifan lokal yang diadaptasi dengan kebutuhan masa kini.

Dampak Ekologis dan Sosial-Ekonomi bagi Petani

Dampak ekologis dari model agroforestri ini cukup signifikan. Sistem ini mampu meningkatkan kelembaban tanah secara alami, sehingga mengurangi risiko kekeringan yang selama ini menjadi momok petani. Selain itu, penyerapan karbon tercatat sebesar 12 ton per hektar per tahun—sebuah kontribusi nyata bagi mitigasi iklim. Kombinasi tanaman tahunan dan musiman menciptakan tutupan lahan yang lebih baik dibandingkan monokultur, sekaligus meningkatkan keanekaragaman hayati di kawasan budidaya.

Dari sisi sosial-ekonomi, Koperasi Perempuan Lestari membuktikan bahwa pengelolaan lahan secara berkelanjutan dapat meningkatkan kesejahteraan. Diversifikasi produk—mulai dari cokelat, kopra, hingga rempah seperti jahe dan kunyit—membuka banyak sumber pendapatan bagi petani. Hasilnya, pendapatan petani meningkat hingga dua kali lipat, memberikan ruang ekonomi yang lebih luas bagi perempuan dan keluarga di pedesaan.

Potensi pengembangan model ini sangat terbuka lebar. Koperasi Perempuan Lestari berencana mereplikasi agroforestri kakao-kelapa di sepuluh desa lain di Pulau Lombok. Langkah ini tentu membutuhkan dukungan dari berbagai pihak, termasuk pemerintah daerah, lembaga riset, dan sektor swasta. Keberhasilan replikasi akan memperkuat ketahanan pangan dan ekonomi masyarakat, sekaligus mempercepat aksi adaptasi dan mitigasi perubahan iklim di tingkat tapak.

Model agroforestri kakao-kelapa di Lombok mengajarkan bahwa krisis iklim tidak selalu berujung pada keterpurukan. Dengan inovasi dan semangat gotong royong, terutama dari koperasi perempuan, lahan yang sempat kritis dapat disulap menjadi sumber penghidupan berkelanjutan. Solusi ini membuktikan bahwa mitigasi iklim dan kesejahteraan petani bisa berjalan beriringan, menjadi inspirasi bagi daerah lain yang menghadapi tantangan serupa.

Organisasi: Koperasi Perempuan Lestari