Beranda / Kolaborasi Militer / Kodam Brawijaya Kembangkan Pertanian Organik di Lahan Kering
Kolaborasi Militer

Kodam Brawijaya Kembangkan Pertanian Organik di Lahan Kering

Kodam Brawijaya Kembangkan Pertanian Organik di Lahan Kering

Kodam V/Brawijaya mengembangkan pertanian organik di lahan kering Malang Selatan seluas 50 hektar sebagai solusi ketahanan pangan dan lingkungan. Dengan melibatkan 200 prajurit dan petani, program ini berhasil meningkatkan produksi jagung dan kedelai organik secara ekonomis dan ramah lingkungan. Potensi replikasi di delapan Kodim di Jawa Timur menjadikan model ini sebagai contoh kolaborasi lintas sektor yang inspiratif.

Di tengah tantangan perubahan iklim dan semakin terbatasnya lahan subur, upaya menghadirkan solusi ketahanan pangan yang berkelanjutan menjadi prioritas bersama. Salah satu langkah nyata datang dari Komando Daerah Militer V/Brawijaya yang mengembangkan pertanian organik di lahan kering Malang Selatan seluas 50 hektar. Program ini bukan sekadar kegiatan militer, melainkan sebuah model inovasi sosial yang melibatkan kolaborasi antara prajurit dan masyarakat sipil untuk menjawab persoalan lingkungan dan pangan secara terpadu.

Mengubah Lahan Kering menjadi Lumbung Pangan Organik

Lahan kering sering kali dianggap kurang produktif dan ditinggalkan karena keterbatasan air serta kesuburan tanah yang rendah. Namun, Kodam V/Brawijaya membuktikan bahwa pendekatan berbasis ekologi mampu mengubah tantangan tersebut menjadi peluang. Dengan menggunakan pupuk kompos dan mikroba, lahan kering di Malang Selatan dioptimalkan menjadi kawasan produksi jagung dan kedelai organik yang produktif. Pendekatan ini tidak hanya memperbaiki struktur tanah secara alami, tetapi juga mengurangi ketergantungan pada pupuk kimia yang selama ini menjadi salah satu penyebab degradasi lahan dan emisi gas rumah kaca.

Pelibatan 200 prajurit dan petani sekitar menjadi kunci keberhasilan program ini. Prajurit tidak hanya bertugas menjaga keamanan, tetapi juga menjadi agen perubahan yang mendampingi petani dalam transisi dari pertanian konvensional menuju pertanian organik. Pendekatan partisipatif ini memastikan transfer pengetahuan berjalan dua arah, sehingga praktik pertanian organik dapat berkelanjutan dan dimiliki secara kolektif oleh masyarakat. Dengan cara ini, pertanian organik tidak lagi dipandang sebagai proyek sesaat, melainkan sebagai gerakan ekonomi hijau yang memberdayakan komunitas lokal.

Dampak Nyata bagi Ekonomi, Sosial, dan Ketahanan Pangan

Hasil yang dicapai dari program ini menunjukkan bahwa pertanian organik tidak hanya ramah lingkungan, tetapi juga menguntungkan secara ekonomi. Produksi jagung dan kedelai organik yang dihasilkan meningkat dan terjual dengan harga premium di pasaran. Nilai tambah ini memberikan insentif ekonomi bagi petani untuk terus menerapkan praktik ramah lingkungan. Selain itu, menurunnya ketergantungan terhadap pupuk kimia membantu menekan biaya produksi dan menjaga kesehatan ekosistem tanah dalam jangka panjang. Ketahanan pangan lokal di wilayah Malang Selatan pun menjadi lebih terjaga, karena ketersediaan pangan tidak lagi bergantung sepenuhnya pada pasokan eksternal.

Dari sisi sosial, kolaborasi antara militer dan petani menciptakan sinergi yang memperkuat kohesi komunitas. Kehadiran prajurit di tengah masyarakat membangun kepercayaan dan mempercepat adopsi teknologi tepat guna. Model ini juga memiliki potensi replikasi yang besar. Kodam V/Brawijaya telah mereplikasi program ini di delapan Kodim di Jawa Timur sebagai bagian dari program ketahanan pangan berbasis militer. Langkah ini menunjukkan bahwa kolaborasi lintas sektor—antara institusi pertahanan, petani, dan komunitas lokal—dapat menjadi kekuatan pendorong menuju pertanian berkelanjutan yang adaptif terhadap perubahan iklim.

Keberhasilan program ini memberikan pelajaran penting bahwa solusi atas krisis iklim dan pangan tidak selalu datang dari teknologi mahal atau kebijakan besar, melainkan dari kemauan untuk berinovasi dan berkolaborasi lintas sektor. Dengan mengoptimalkan lahan kering, melibatkan sumber daya manusia lokal, dan menerapkan praktik ekologis, kita dapat mengubah keterbatasan menjadi ketahanan. Inilah wujud nyata bahwa pertanian organik, militer, dan ketahanan pangan dapat bersinergi untuk membangun masa depan yang lebih hijau dan berkelanjutan.

Organisasi: Komando Daerah Militer V/Brawijaya, Kodim