Ancaman intrusi air laut yang meningkat tidak hanya mengancam ekosistem pesisir, tetapi juga menggerogoti salah satu tulang punggung ketahanan pangan nasional: lahan pertanian. Di Surabaya dan banyak wilayah pantai Indonesia, air asin merembes ke tanah, meninggalkan endapan garam yang menurunkan kesuburan dan produktivitas pertanian secara drastis. Menghadapi tantangan multidimensi ini, tim peneliti Departemen Biologi Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), melalui program World Class University (WCU), berkolaborasi dengan mitra internasional dari Vietnam dan Badan Riset dan Inovasi Daerah Kota Surabaya. Mereka menjadikan Kebun Raya Mangrove Surabaya sebagai laboratorium hidup untuk menguji solusi inovatif yang tidak hanya adaptif, tetapi juga rendah karbon.
Solusi Ganda: Padi Salin dan Sistem Monitoring Pintar
Inovasi yang diusung berfokus pada dua pendekatan utama yang saling melengkapi. Pertama adalah pengembangan varietas padi salin yang toleran terhadap kadar garam tinggi. Adaptasi ini sangat krusial untuk mengembalikan fungsi lahan pesisir yang terdegradasi sebagai penghasil pangan. Kedua, untuk mendukung pengelolaan air yang efisien di lahan tersebut, tim mengintegrasikan teknologi WALsens (Water Level Sensor) bertenaga surya. Sensor ini bekerja memantau ketinggian air secara presisi dan real-time, memastikan pemberian irigasi yang optimal sesuai kebutuhan tanaman dan mencegah pemborosan.
Biochar: Strategi Rendah Karbon untuk Tanah yang Lebih Sehat
Lebih dari sekadar beradaptasi, kolaborasi ini juga menargetkan mitigasi perubahan iklim. Mereka menerapkan penggunaan biochar sebagai pembenah tanah cerdas. Biochar, yang merupakan arang hayati dari bahan organik, berfungsi ganda. Selain memperbaiki struktur tanah dan menahan air, ia juga menjadi media penyimpanan (sekuestrasi) karbon jangka panjang. Di lahan sawah pesisir yang sering tergenang, penambahan biochar dapat mereduksi emisi gas metana, gas rumah kaca yang jauh lebih kuat daripada karbon dioksida. Dengan demikian, satu intervensi ini memberikan dampak ganda: memulihkan kesuburan tanah dan sekaligus mengurangi jejak karbon dari aktivitas pertanian.
Model kolaborasi ini tidak lahir dari ruang hampa. Mereka mengadaptasi pembelajaran dan keberhasilan Vietnam dalam mengelola lahan kritis di Delta Mekong, sebuah wilayah yang juga sangat rentan terhadap salinitas dan perubahan iklim. Kolaborasi akademisi, pemerintah daerah, dan pakar internasional ini menciptakan ekosistem inovasi yang holistik. Pengetahuan lokal tentang kondisi Kebun Raya Mangrove Surabaya disinergikan dengan teknologi dan pengalaman global, menghasilkan solusi yang kontekstual dan terbukti.
Dampak yang dihasilkan dari inisiatif ini bersifat multidimensi. Dari sisi lingkungan, lahan salin yang semula terabaikan dapat dihidupkan kembali sebagai penghasil pangan dan penyerap karbon. Secara sosial dan ekonomi, hal ini membuka peluang penghidupan baru bagi masyarakat pesisir dan berkontribusi langsung pada ketahanan pangan lokal. Selain itu, keberhasilan riset ini meningkatkan rekognisi internasional melalui publikasi ilmiah dan memberikan kontribusi nyata terhadap pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), khususnya dalam mengakhiri kelaparan serta mempromosikan pertanian dan konsumsi yang berkelanjutan.
Pendekatan yang diujicobakan di Surabaya ini memiliki potensi replikasi yang sangat besar. Kota-kota pesisir lain di Indonesia yang menghadapi ancaman serupa dapat mengadopsi dan memodifikasi paket solusi ini. Kunci keberhasilannya terletak pada kemitraan yang kuat antara perguruan tinggi sebagai penghasil inovasi, pemerintah daerah sebagai fasilitator kebijakan dan lahan, serta komunitas sebagai pelaku utama. Inovasi ini mengajarkan bahwa ancaman perubahan iklim dan krisis pangan tidak bisa dihadapi dengan solusi tunggal, tetapi memerlukan pendekatan terintegrasi yang menggabungkan bioteknologi tanaman, teknologi sensor, dan praktik pertanian regeneratif.