Beranda / Ketahanan Pangan / Insinyur ITB Raih Bintang Jasa atas Inovasi Pertanian Zero W...
Ketahanan Pangan

Insinyur ITB Raih Bintang Jasa atas Inovasi Pertanian Zero Waste yang Tingkatkan Pendapatan Petani

Insinyur ITB Raih Bintang Jasa atas Inovasi Pertanian Zero Waste yang Tingkatkan Pendapatan Petani

Insinyur Heri Sunarto dari ITB meraih Bintang Jasa atas inovasi sistem pertanian terpadu nir-limbah yang mengintegrasikan budidaya ikan, ternak, dan tanaman. Sistem ini menciptakan siklus tertutup yang menghilangkan limbah, mengurangi biaya input, dan meningkatkan pendapatan petani hingga 300%, sekaligus menawarkan solusi praktis untuk keberlanjutan lingkungan dan ketahanan pangan.

Sektor pertanian sering menghadapi dua tantangan besar yang saling terkait: pemborosan sumber daya dan beban ekonomi. Limbah hasil usaha pertanian dan peternakan, seperti kotoran ternak dan sisa tanaman, yang tidak terkelola dapat menjadi sumber polusi lingkungan dan kehilangan nilai ekonomi. Di sisi lain, ketergantungan pada input produksi seperti pupuk kimia dan pakan ternak yang mahal terus membebani finansial petani, mengurangi margin keuntungan dan daya tahan usaha mereka. Kondisi ini menciptakan lingkaran setan yang menghambat pencapaian ketahanan pangan dan keberlanjutan lingkungan.

Solusi Sistem Terpadu Nir-Limbah dari Heri Sunarto

Menjawab tantangan kompleks ini, Heri Sunarto, seorang insinyur mesin dari Institut Teknologi Bandung (ITB), berhasil mengembangkan sebuah sistem pertanian nir-limbah atau zero waste. Konsep intinya adalah sistem pertanian terpadu yang mengintegrasikan tiga komponen utama: budidaya ikan, peternakan (ayam atau sapi), dan pertanian tanaman pangan atau hortikultura dalam satu lingkup lahan. Inovasi ini bertujuan memaksimalkan setiap output dari satu kegiatan menjadi input bagi kegiatan lainnya, menciptakan siklus tertutup yang efisien dan menghilangkan konsep limbah.

Cara Kerja dan Pendekatan Sistem Circular Farming

Pendekatan zero waste ini bekerja melalui prinsip sirkularitas (circular farming). Limbah kotoran ternak tidak dibuang, tetapi diolah melalui digester biogas. Proses ini menghasilkan dua produk bernilai: biogas sebagai sumber energi alternatif dan pupuk cair organik yang kaya nutrisi. Sisa padat dari pengolahan tersebut dapat dijadikan pupuk kompos berkualitas untuk tanaman. Pada sisi budidaya ikan, air kolam yang sudah mengandung nutrisi dari pakan dan ekskresi ikan—yang biasanya menjadi masalah jika dibuang—dialirkan untuk menyuburkan tanaman secara hidroponik atau melalui irigasi tetes. Sistem terpadu ini secara signifikan mengurangi, bahkan menghilangkan, ketergantungan pada pupuk kimia sintetis dan pakan ternak komersial yang mahal.

Dampak inovasi ini multidimensi dan sangat nyata. Dari sisi ekonomi, laporan menunjukkan peningkatan pendapatan petani pengguna sistem ini hingga 300%. Angka ini berasal dari kombinasi penghematan drastis biaya input (pupuk, pakan, energi) dan diversifikasi produk yang dapat dijual (ikan, ternak, sayuran organik). Dari perspektif lingkungan, sistem nir-limbah ini menghilangkan sumber polusi, mengurangi emisi metana dari kotoran ternak yang terbuang, dan mengoptimalkan penggunaan air melalui resirkulasi. Secara sosial, model ini memberdayakan petani dengan pengetahuan dan teknologi aplikatif yang meningkatkan kemandirian usaha mereka.

Potensi pengembangan dan replikasi inovasi ini sangat luas. Sistem pertanian terpadu yang sirkular dapat diadaptasi pada berbagai skala, mulai dari implementasi di pekarangan rumah (urban farming) untuk ketahanan pangan keluarga, hingga skala komersial di kawasan agribisnis. Fleksibilitas ini menjadikan solusi Heri Sunarto sangat aplikatif untuk konteks Indonesia dengan keragaman lahan dan sumber daya. Penghargaan Bintang Jasa Pratama yang diterimanya dari Presiden Republik Indonesia bukan hanya pengakuan atas prestasi individu, tetapi juga tanda bahwa pendekatan zero waste dan ekonomi hijau mendapat tempat penting dalam strategi pembangunan nasional.

Inovasi ini memberikan contoh konkret bagaimana pendekatan teknik dan sistemik dapat mentransformasi masalah lingkungan dan ekonomi menjadi peluang keberlanjutan. Ia tidak hanya solutif secara teknis, tetapi juga inklusif secara sosial dan ekonomi, menjembatani gap antara produktivitas, profitabilitas, dan perlindungan lingkungan. Refleksi akhirnya adalah pentingnya mendukung dan menyebarluaskan model solusi seperti ini, yang mendemonstrasikan bahwa pertanian modern tidak harus bertabrakan dengan prinsip zero waste dan kelestarian alam, tetapi justru dapat menjadi motor penggeraknya.

Tokoh: Heri Sunarto Organisasi: ITB