Di tengah tekanan sampah yang mencapai 7 ton per hari dan ketergantungan sistem irigasi tradisional yang rentan terhadap perubahan iklim, Desa Keliki di Gianyar, Bali, memilih jalan transformatif. Melalui program Desa Energi Berdikari (DEB) dari Pertamina, desa ini membuktikan bahwa integrasi energi terbarukan dengan pengolahan sampah dan pertanian organik bukan hanya mimpi, tetapi solusi nyata untuk menciptakan ekosistem yang mandiri dan berkelanjutan. Inisiatif ini menjadikan Keliki sebagai prototipe nyata sebuah desa mandiri yang menjawab tantangan lingkungan dan ketahanan pangan secara simultan.
Kemitraan Strategis: Dari Masalah Sampah Menjadi Pupuk Organik
Solusi pertama yang dijalankan adalah mengubah ancaman sampah menjadi berkah ekonomi dan ekologi. Dengan dukungan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) berkapasitas 10,5 kWp, desa ini menggerakkan mesin pencacah dan pengolah sampah di Tempat Pengolahan Sampah Reduce, Reuse, Recycle (TPS3R). Energi terbarukan dari matahari ini mengubah proses pengelolaan limbah menjadi lebih efisien dan ramah lingkungan. Sampah organik yang sebelumnya menumpuk, kini diolah menjadi pupuk kompos berkualitas untuk mendukung program pertanian organik di desa. Inovasi ini menghasilkan penghematan biaya listrik hingga Rp21 juta per tahun sekaligus mengurangi emisi karbon setara 13,7 ton CO2 per tahun, sebuah langkah nyata mitigasi perubahan iklim.
Revolusi Irigasi Berbasis Surya untuk Ketahanan Pangan
Sektor kedua yang mengalami revolusi adalah sistem irigasi pertanian, jantung dari ketahanan pangan masyarakat agraris Bali. Tujuh subak (organisasi irigasi tradisional) di Keliki kini didukung oleh PLTS berkapasitas lebih besar, yaitu 17,5 kWp. Energi terbarukan ini menggerakkan pompa air yang menjamin pasokan air untuk irigasi, terlepas dari musim kemarau yang semakin tidak menentu akibat perubahan iklim. Dampaknya langsung terlihat pada produktivitas. Hasil panen padi yang sebelumnya hanya 5,5 ton per hektare melonjak signifikan menjadi 8,7 ton per hektare. Penerapan model ini tidak hanya menghemat biaya operasional irigasi sebesar Rp35 juta per tahun, tetapi juga mencegah emisi 23,1 ton CO2eq per tahun, sekaligus memperkuat fondasi pertanian organik yang berkelanjutan.
Dampak program ini bersifat multidimensi, melampaui sekadar angka teknis. Secara sosial, program ini melibatkan partisipasi aktif 1.200 kepala keluarga, menciptakan lapangan kerja bagi 9 orang, dan memberdayakan 15 UMKM lokal yang bergerak di bidang pengolahan hasil pertanian dan kerajinan. Ekosistem yang terbangun telah mengubah Desa Keliki menjadi laboratorium hidup dan destinasi edukasi keberlanjutan, yang telah dikunjungi lebih dari 6.000 tamu. Kunjungan ini membuka potensi ekonomi baru dari pariwisata edukatif, menunjukkan bahwa pembangunan berkelanjutan juga dapat menjadi mesin pertumbuhan ekonomi lokal.
Model integrasi yang diterapkan di Desa Keliki menawarkan blueprint yang sangat aplikatif untuk direplikasi di berbagai daerah di Indonesia. Pendekatannya yang holistik—menggabungkan manajemen limbah, ketahanan pangan, dan kemandirian energi—menunjukkan jalan keluar dari paradigma pembangunan sektoral yang terpisah. Kunci keberhasilannya terletak pada kemitraan yang solid antara BUMN, pemerintah daerah, dan masyarakat, serta pemanfaatan teknologi tepat guna yang dioperasikan dengan energi terbarukan. Keberhasilan ini menjadi bukti bahwa transisi menuju ekonomi hijau dan desa mandiri dimulai dari solusi lokal yang berdampak sistemik, menciptakan ketahanan terhadap guncangan iklim sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat secara inklusif.