Beranda / Ketahanan Pangan / BRIN Kembangkan Varietas Padi Toleran Kekeringan untuk Perku...
Ketahanan Pangan

BRIN Kembangkan Varietas Padi Toleran Kekeringan untuk Perkuat Ketahanan Pangan Nasional

BRIN Kembangkan Varietas Padi Toleran Kekeringan untuk Perkuat Ketahanan Pangan Nasional

BRIN mengembangkan varietas padi toleran kekeringan melalui pemuliaan konvensional dan seleksi berbasis marka molekuler. Hasil uji di Jawa Timur dan Nusa Tenggara Barat menunjukkan produktivitas 5-6 ton per hektare, lebih tinggi dari varietas lokal pada kondisi cekaman air. Inovasi ini memperkuat ketahanan pangan nasional dan berpotensi direplikasi di Asia Tenggara dan Afrika.

Perubahan iklim telah memicu kekeringan yang lebih panjang dan gagal panen di berbagai sentra padi. Fenomena ini menjadi ancaman serius bagi ketahanan pangan nasional, terutama bagi petani yang menggantungkan hidup pada lahan tadah hujan. Menjawab tantangan tersebut, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) melalui Pusat Riset Tanaman Pangan terus mengembangkan varietas padi toleran kekeringan yang mampu berproduksi optimal meski ketersediaan air terbatas. Kondisi ini menuntut hadirnya inovasi perbenihan yang adaptif sekaligus aplikatif di lapangan.

Inovasi Benih Padi Hemat Air untuk Lahan Kering

Inovasi yang ditawarkan bukan sekadar benih biasa. BRIN menghadirkan benih padi unggul yang hemat air dan memiliki sistem perakaran dalam. Dengan akar yang menjangkau air tanah lebih dalam, tanaman tetap dapat tumbuh dan berproduksi di tengah cekaman kekeringan. Pendekatan ini membuat ketahanan pangan lebih kokoh karena produksi tidak mudah runtuh saat musim kemarau datang.

Varietas unggul ini dihasilkan melalui pemuliaan konvensional yang dipadukan dengan marker-assisted selection (seleksi berbasis marka molekuler). Teknologi ini mempercepat proses seleksi karena peneliti dapat memilah langsung calon varietas yang memiliki gen toleran kekeringan, tanpa harus menunggu tanaman tumbuh dalam jumlah besar. Dengan demikian, waktu pengembangan varietas menjadi lebih singkat dan hasilnya lebih presisi.

Uji Coba di Lahan Kering dan Dampak yang Dihasilkan

Beberapa galur harapan telah diuji di lahan kering di Jawa Timur dan Nusa Tenggara Barat. Hasilnya menjanjikan: produktivitas mencapai 5–6 ton per hektare, lebih tinggi dibandingkan varietas lokal yang ditanam pada kondisi cekaman kekeringan yang sama. Capaian ini membuktikan bahwa inovasi tidak hanya bertahan hidup, tetapi mampu berproduksi secara optimal di lahan marginal. Inilah jawaban nyata terhadap kebutuhan ketahanan pangan di tengah ketidakpastian iklim.

Dampaknya terasa nyata bagi ketahanan pangan nasional. Ketika anomali iklim menyebabkan musim kemarau berkepanjangan, petani lahan tadah hujan tetap bisa menanam padi. Biaya irigasi menjadi lebih hemat, sehingga tekanan ekonomi petani berkurang. Dalam skala yang lebih luas, pasokan beras nasional menjadi lebih stabil dan risiko krisis pangan dapat ditekan. Dengan begitu, petani memiliki kepastian untuk tetap produktif meskipun musim tidak lagi dapat diprediksi.

Ke depan, varietas ini berpotensi direplikasi ke wilayah Asia Tenggara dan Afrika yang juga rentan terhadap kekeringan. Hal ini menjadikan Indonesia bukan hanya penerima manfaat, tetapi juga kontributor aktif dalam penguatan ketahanan pangan dunia. Inovasi ini membuktikan bahwa riset dan kolaborasi ilmu pengetahuan mampu menjawab tantangan lingkungan paling mendesak sekalipun. Dukungan terhadap riset dan penyebaran benih unggul menjadi langkah strategis yang harus terus diperluas.

Setiap langkah riset yang lahir dari laboratorium dan uji coba lapangan adalah investasi nyata bagi masa depan pangan yang lebih tangguh. Menguatkan ketahanan pangan berarti menjaga kehidupan jutaan petani dan masyarakat. Sudah saatnya kita mendukung penuh inovasi berkelanjutan seperti ini, karena krisis iklim bukan hanya soal lingkungan, melainkan juga soal bagaimana kita menyiapkan pangan bersama-sama.

Organisasi: Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Pusat Riset Tanaman Pangan