Beranda / Teknologi Ramah Bumi / Biogas Skala Rumah Tangga dari Kotoran Sapi di Desa Wisata L...
Teknologi Ramah Bumi

Biogas Skala Rumah Tangga dari Kotoran Sapi di Desa Wisata Lombok

Biogas Skala Rumah Tangga dari Kotoran Sapi di Desa Wisata Lombok

Program biogas skala rumah tangga di Desa Wisata Sembalun, Lombok, berhasil mengubah limbah kotoran sapi menjadi energi terbarukan untuk memasak. Dengan 50 unit digester, program ini mengurangi pencemaran sungai hingga 80% dan menghemat LPG Rp150.000 per rumah tangga per bulan. Rencana ekspansi ke 200 unit dan pemanfaatan slurry sebagai pupuk organik menjadikan inovasi ini model berkelanjutan yang dapat direplikasi.

Desa wisata Sembalun di Lombok, Nusa Tenggara Barat, menyimpan potensi besar sekaligus tantangan lingkungan. Dengan populasi 500 ekor sapi perah, desa ini menghasilkan limbah kotoran sapi dalam jumlah signifikan. Sebelum ada penanganan, limbah tersebut mencemari sungai dan kawasan wisata, mengancam ekosistem dan kenyamanan wisatawan. Permasalahan ini menjadi ironi karena di satu sisi desa mengandalkan sektor peternakan dan pariwisata, di sisi lain limbahnya justru menjadi sumber pencemaran. Namun, kehadiran inovasi biogas hadir sebagai solusi yang menjawab dua masalah sekaligus: mengurangi pencemaran dan menyediakan energi terbarukan bagi masyarakat.

Biogas dari Kotoran Sapi: Solusi Energi Terbarukan yang Aplikatif

Menjawab persoalan tersebut, program CSR sebuah perusahaan energi memasang 50 unit digester biogas tipe fixed-dome sejak akhir 2025. Setiap digester berkapasitas 8 m³ mampu mengubah kotoran dari 3-4 ekor sapi menjadi gas metana yang dapat digunakan untuk kebutuhan memasak hingga 5 rumah tangga. Dengan pendekatan ini, kotoran sapi yang sebelumnya menjadi limbah pencemar kini diubah menjadi biogas, salah satu bentuk energi terbarukan yang ramah lingkungan dan mudah dikelola di tingkat rumah tangga. Cara kerjanya cukup sederhana: kotoran sapi dimasukkan ke dalam digester kedap udara, kemudian terjadi proses fermentasi anaerobik yang menghasilkan gas metana. Gas ini dialirkan ke kompor untuk memasak, sehingga mengurangi ketergantungan pada LPG.

Kehadiran biogas ini memberikan dampak ekonomi langsung bagi warga. Setiap rumah tangga dapat menghemat hingga 30 kg LPG per bulan atau setara Rp150.000 per bulan. Selain itu, penggunaan biogas mengurangi bau tidak sedap dan populasi lalat yang sering muncul di sekitar kandang. Dengan lingkungan yang lebih bersih, kawasan wisata Sembalun pun menjadi lebih nyaman dikunjungi. Inovasi ini menunjukkan bahwa solusi energi terbarukan tidak harus berskala besar; pendekatan berbasis komunitas dapat memberikan manfaat nyata dan berkelanjutan.

Dampak Lingkungan dan Potensi Pengembangan Menuju 200 Unit

Dampak lingkungan dari program ini sangat signifikan. Pencemaran sungai akibat limbah kotoran sapi menurun hingga 80%. Angka ini membuktikan bahwa pengelolaan limbah peternakan yang tepat tidak hanya mengatasi masalah bau, tetapi juga melindungi kualitas air dan ekosistem perairan. Penurunan pencemaran ini penting bagi desa wisata karena sungai yang bersih menjadi daya tarik tersendiri dan menunjang keberlanjutan sektor pariwisata.

Ke depan, program ini direncanakan diperluas hingga 200 unit digester. Selain memperluas akses energi terbarukan, ekspansi ini juga akan mengolah limbah padat biogas atau slurry menjadi pupuk organik yang dapat digunakan untuk kebun sayur desa. Dengan demikian, siklus pengelolaan menjadi lebih lengkap: kotoran sapi menghasilkan biogas untuk energi, sementara residunya menjadi pupuk yang meningkatkan produktivitas pertanian. Hal ini sejalan dengan prinsip ekonomi sirkular dan ketahanan pangan.

Replikasi model ini sangat mungkin dilakukan di daerah lain yang memiliki potensi peternakan dan permasalahan limbah serupa. Dengan dukungan kebijakan, pendanaan, dan pendampingan teknis, biogas dari kotoran sapi dapat menjadi solusi energi terbarukan yang memperkuat ekonomi desa sekaligus menjaga lingkungan. Inovasi seperti ini mengingatkan kita bahwa masalah lingkungan dan energi sering kali bisa diselesaikan dengan memanfaatkan sumber daya lokal secara cerdas.

Organisasi: perusahaan energi